RSS

Selasa, 20 April 2010

rintihan seorang yatim



Rintihan seorang yatim

Sore nan cerah, mentari telah siap ke tempat peristirahatan. Sayu-sayu angin bersiul. Burung-burung kembali pulang. Begitupun dengan seorang tua yang akan kembali menuju rumah singgahnya. Menemui istri yang telah menunggu untuk sepiring nasi.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Dibukalah pintu oleh sang istri. Terlihat senyuman yang bercampur keletihan yang diipancar dari wajah sang suami. Rahmat begitulah bapak ini biasa di panggil sehari-hari. Siang hingga menjelang malam ia sibuk berbasah dengan ikan. Istrinya, bernama minah. Ia hanyalah seorang buruh cuci pakaian. Penghasilan mereka juga tak menentu. Terkadang sehari mereka hanya makan sepiring nasi jagung tanpa lauk. Namun keluarga ini tak pernah mengeluh sama sekali tentang keadaan hidup mereka yang mungkin tak dapat dijalani oleh orang lain.
Dua puluh tahun sudah usia perkawinan mereka, namun sampai sekarang mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Setiap saat ketika mereka menghadap kepada sang ilahi, tak ada yang ia minta kecuali hanya seorang anak. Hingga akhirnya mu’jizat datang kepada mereka sang isteri  pun hamil. Kebahagiaan yang tiada tara menghampiri mereka.
“Ya Allah ya robbi, sekian lama kami menanti. Bertahun sudah kami memohon kepadamu, namun karunia yang telah kau berikan kepada istriku telah menjawab semua doa ku. Sungguh engkaulah yang maha adil lagi maha mengetahui” kata rahmat dlm doanya.
Setelah usia kandungan minah berusia 9bulan mereka terus menanti dan menanti akan kedatangan jabang bayi yang telah mereka idam-idamkan sejak lama. “aku jadi tak sabar pak, menunggu anak ini lahir. Aku juga sudah mempersiapkan 2 pasang nama untuk anak ini!” kata si minah. “Aku juga tak sabar bu untuk menggendong anak ini”sahut rahmat.
Pagi pun menjelang. Seperti biasa rahmat berangkat ke laut untuk bekerja kembali. Sesampainya ia di laut, ia bertemu nelayan yang lain yang juga telah siap tuk arungi laut nan biru. Setelah selesai mengemas semua keperluan yang mereka butuhkan, tak lama kemudian mereka mulai naik ke atas kapal dan mulai mengarungi lautan nan luas. Setelah jauh dari daratan tiba-tiba cuaca memburuk. Badaipun datang. Dan mereka pun tenggelam di dalam kapal.
Minah yang sedang hamil tua menunggu kedatangan suaminya yang sejak dari matahari terbit hingga berganti bulan bersinar namun suaminya tak kunjung pulang. Rasa hawatir dan cemas menyelimuti dirinya. “Ya Allah, berikanlah keselamatan untuk suamiku.”kata minah. Minah  tak tahu bahwa suaminya teelah tewas dalam kapal.
Berhari-hari ia menunggu suaminya pulang, hingga anak dalam kandungannya telah lahir. “tok…tok…tok…………..assalamualaikum,bu…????”terdengar suara seseorang mengetuk pintu. “Waalaikumsalam…iya bu tunggu sebentar!!”jawab bu minah. “Bu, saya turut bersedih!”, “sedih kenapa bu………….??”, “ibu belum tahu kabar ini?”, “kabar apa toh bu?”, “suami buminah tewas tenggelam dalam kapal seminggu yang lalu!!”, “innalillahi wa inna ilaihi rojiun…………astaghfirullahal adzim”(bu minah kaaget) sontak ia langsung menangis mendengar bahwa suaminya yang lama ia tunggu ternyata sudah meninggal.
Bertahun setelah tewasnya pak rahmad, bu minah tinggal bersama ali putra tunggalnya. Ali tumbuh dalam keadaan yatim. Bahkan ia tak sempat melihat bagaimanakah wajah ayahnya itu. Hingga saatnya ali sekolah, namun ali tak dapt bersekolah. Keadaan ekonomi bu minah yang tak mencukupi membuat ali harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk bersekolah. Ali telah berumur 9 tahun, namun ia sudah menjadi tulang punggung untuk ibunya. Sehari-hari ia bekerja menjadi seorang pemulung. Bu minah yang masih syok atas kepergian suaminya bertahun-tahun yang lalu hingga kini masih terus sakit-sakitan. Hingga akhirnya bu minah pun meninggal.
Ali kini hidup sebatang kara. “Ya allah mengapa aku engkau ciptakan dalam keadaan seperti ini…………??”(ali merintih) dia merasa bahwa dirinya tak berarti untuk menjalani hidupnya. Putus asa, mungkin rasa itu yang ia rasakan saat ini. Ia tak punya tempat tinggal. Kolong jembatan adalah peristirahatan yang dapat mengusir penat dalam dirinya. Terkadang ia iri kepada teman sebayanya yang sibuk bermain tanpa harus bekerja demi menyambung hidupnya. Ia tak sanggup menahan air mata  jika ia melihat seorang anak yang sedang bermanja dengan ibunya. Ia ingin sekali melihat wajah ayahnya meskipun Cuma sekejap mata memandang. Kesedihan yang ia rasakan tak pula membuat ia berhenti bersemangat.
Kala ia rindu akan ibunya ia tak henti memandang langit, ia yakin bahwa ibunya telah bahagia bersama ayahnya disisi-Nya. Ia juga sangat tegar meskipun cobaan yang ia rasakan sangat menyakitkan. Namun ia tetap bersemangat dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Meskipun secara lahir ia tak nampak bersama orangtuanya namun secara batin orang tuanya selalu menemaninya kapanpun dan dimanapun ia berada. Cinta yang ia berikan kepada orang tuanya secara tulus, tak mematikan kasih sayang yang ada dalam dirinya. Sehingga ia tetap teersenyum dalam menghadaapi hidup yang terjal sampai nafas terakhir ia hembuskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar